Breaking News

Cerita UNICEF Indonesia: Orang Tua Wajib Berbagi Tugas Dalam Membesarkan Anak

Cerita UNICEF Indonesia: Orang Tua Wajib Berbagi Tugas Dalam Membesarkan Anak - Pada mulanya sebuah harapan ingin punya anak dan mendapatkannya. Kadang begitu saja terjadi. Kadang tak direncanakan. Kadang lahir dari keinginan dan niat yang begitu kuat, melibatkan perencanaan dan pengorbanan yang tidak main-main dari secara fisik, emosional dan finansial. Ia datang bersama segala harapan dan derita, serta kebahagiaan setelahnya.



Kadang ada sesuatu yang salah seperti bayi itu tak sehat. Pada menit pertama ia lahir, pada menit pertama kau menyentuhnya, kau tahu ada sesuatu yang tak seperti seharusnya. Atau barangkali ginekologmu telah memberitahu bahwa ada masalah dengan janinmu ketika ia masih dalam kandungan.

Kau mengalami dilema. Kau merogoh jauh ke dalam lubuk keyakinanmu terdalam, ke dalam semua nilai yang kau usung, kau bebaskan bayi itu dari penderitaan sepanjang hidup. Atau kau bebaskan dirimu dan keluargamu dari penderitaan yang sama. Atau kau rengkuh dan syukuri apa yang telah diberikan Tuhan kepadamu dan mengasuhnya sebaik mungkin, selama mungkin.

Teringat bahwa siapapun bisa menjadi orang tua, tapi orang tua yang baik akan meletakkan anak di atas kebutuhannya sendiri. Anak tidak seharusnya berkorban agar kau bisa menjalani hidup yang kau inginkan, kau yang harus berkorban agar anakmu bisa mendapatkan kehidupan yang sepantasnya.
Kau juga teringat bahwa anak adalah karunia terindah, dan mengasuh anak adalah tanggung jawab yang besar.

Tanggung jawab yang melampaui sekadar memenuhi kebutuhan dasar anak, sandang pangan, atap, pendidikan, perawatan kesehatan, cinta dan dukungan moril. Melampaui sekadar mengetahui apa yang membuat anak bahagia atau membesarkan anak agar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab.

Ketika yang terlibat adalah dua orang tua, tanggung jawab harus dipikul Bersama, tanggung jawab yang umumnya bersifat rasional menjadi orangtua pada usia yang matang, merencanakan jumlah anak yang pas, memberi jarak antara kelahiran satu anak dan yang lainnya demi kesehatan ibu dan anak. Tanggung jawab bersama berarti kedua orang tua harus mempunyai pengetahuan dasar tentang pertumbuhan anak serta pemahaman bahwa kebutuhan dan perilaku anak berevolusi selama masa hidupnya dengan terus bertambah. Tanggung jawab bersama berarti memahami bahwa setiap anak unik dan tak ada yang namanya pendekatan tunggal dalam mengasuh anak.

Tanggung jawab bersama berarti berkelakuan seperti orang dewasa, termasuk hal yang kadang paling sulit itu: mengurus diri sendiri dan satu sama lain. Saling memberi perhatian dan bergiliran melakukan pekerjaan rumah tangga ketika pasangan kita sedang menyusui, memastikan bahwa pasangan kita cukup istirahat ketika sedang hamil, menciptakan ruang privat bagi pasangan kita untuk menyusui, mengoptimalkan cuti melahirkan untuk ayah.

Tak kurang pentingnya, tanggung jawab bersama berarti mengakui bahwa kita semua punya keterbatasan dalam pengetahuan dan kesabaran kita. Itu bisa berarti kau tidak usah merasa gengsi minta bantuan ke orang lain dari anggota keluarga, guru, psikolog atau konselor. Itu bisa berarti memahami dan menuntut hak kita untuk mengasuh anak dengan bertanggung jawab, sebab itulah hak anak kita yang paling mendasar.

Ini adalah cerita yang  dilansir dari penulis anggota Unicef Indonesia tentang Refleksi dari KHA pasal 18.

Ternyata begitu mulianya Lembaga Unicef bagi masyarakat Indonesia terutama untuk anak yang memperlukan perlindungan hak untuk dapat dimanusiakan dan mendapatkan bantuan untuk kelangsungan hidupnya.

Unicef Indonesia telah membuka untuk para Donatur yang ingin menyisihkan sebagian rejekinya untuk dapat berkontribusi dalam membantu anak-anak kita yang membutuhkan. Sebagai Donatur juga diberi keleluasaan untuk dapat berhenti donasi Unicef kapan saja.
Ayo bantu anak-anak Indonesia.

Sumber: https://www.unicef.org/indonesia/id/stories/refleksi-dari-kha-pasal-18

Tidak ada komentar